Ghost in the Shell adalah anime yang terutama ditujukan kepada penonton dewasa. Bukan hanya karena penggambaran grafis kekerasan dan ketelanjangan, tetapi juga karena konteks sosiopolitik dan filosofisnya yang rumit.
Dengan cara itu, di balik aksi dan elemen sci-fi, tersembunyi upaya untuk memahami makna hidup melalui penyebaran teknologi yang luas, seperti halnya tema rasisme dan politik.
Ghost in the Shell dan Distopia Cyberpunk
Berdasarkan manga oleh Masamune Shirow, Ghost in the Shell menjadikan cyberpunk sebagai salah satu tema utama genre ini. Anime ini mengambil setting pada tahun 2029, ketika dunia terhubung melalui jaringan elektronik yang luas yang memiliki akses ke semua aspek kehidupan.
Motoko Kusanagi adalah cyborg yang bekerja untuk Public Security Section 9. Bersama dengan tim ahlinya, dia sedang berburu “Puppet Master”, seorang hacker jenius yang diduga bertujuan untuk melawan masyarakat opresif kontemporer dan ketergantungan mutlaknya pada jaringan yang disebutkan di atas.
Anime ini menelurkan franchise besar yang terus menghasilkan mahakarya. Selain itu, Ghost in the Shell adalah merek dagang industri baik dalam tema dan kemajuan teknologi, yang melibatkan sejumlah proses animasi perintis.
Adegan ketika Mayor Kusanagi telanjang melompat ke bagian bawah gedung secara terbalik, dan membunuh targetnya melalui jendela apartemen, adalah salah satu ikonik dari industri anime.
Ghost in the Shell juga jadi salah inspirasi bagi Wachowski bersaudara dalam menggarap film blockbuster The Matrix.


