Kategori
Anime

10 Anime dari Studio White Fox

Gaku Iwasa mendirikan studio ini pada bulan April 2007 setelah timnya keluar dari OLM, sebuah studio animasi yang terkenal dengan hit fantasi gelap Berserk dan juga seri Pokémon.

Studio White Fox makin terkenal dan mapan setelah seri ketiganya, Steins; Gate, pada tahun 2011, menjadi hit. Sejak saat itu, mereka terus menghasilkan karya yang solid dengan hasil yang stabil.

Meski baru hadir lebih dari satu dekade, White Fox memiliki pilihan anime luar biasa yang layak untuk menarik perhatian penggemar. Tanpa basa-basi lagi, berikut adalah pilihan 10 anime dari studio White Fox.

1. Katanagatari

katanagatari
  • Episode: 12
  • Genre: Action, Adventure, Romance

Ada dua belas pedang legendaris. Togame, ahli strategi shogun, memiliki tugas untuk mengumpulkan dua belas pedang itu. Dia telah dikhianati sebelumnya, jadi sekarang dia meminta bantuan ke Shichika Yasuri.

Shichika berlatih seni pedang tanpa pedang yang disebut Kyotouryuu. Dia tinggal di pulau terpencil bersama Nanami, saudara perempuannya. Togame dan Shichika akan memulai perjalanan untuk mengumpulkan kedua belas pedang sekaligus melawan pendekar pedang terbaik di Jepang.

Katanagatari merupakan light novel karya Nisio Ision, yang juga penulis dari serial hit Monogatari. Anime adaptasinya memiliki art style yang unik, dengan masing-masing episode berdurasi 45 menit yang dirilis sebulan sekali sepanjang tahun 2010.

Katanagatari adalah epik sejati yang menampilkan romansa antara Shichika dan Togame, beberapa adegan perkelahian megah, dan tragedi yang menunggu di setiap sudut, juga akhir yang tak disangka-sangka.

2. Steins;Gate

steins gate
  • Episode: 24
  • Genre: Action, Adventure, Romance

Rintarou Okabe menemukan rahasia perjalanan waktu, dan pengetahuan itu datang dengan konsekuensi. Bagi banyak orang, termasuk saya, episode-episode awal memang terkesan membosankan, tapi memasuki pertengahan kita akan mengerti kenapa Steins; Gate masih sering dibicarakan sebagai salah satu anime pilih tanding.

Baca juga: 7 Anime Tentang Perjalanan Waktu

Steins; Gate adalah seri yang menempatkan White Fox di peta skena anime. Berdasarkan novel visual, thriller perjalanan waktu ini dianggap sebagai salah satu anime terbaik yang pernah ada. Steins; Gate orisinal sudah menjadi thriller psikologis, tetapi Steins; Gate 0 melangkah lebih dalam ke rute itu, terutama dengan premis yang tragis.

3. Jormungand

jormungand
  • Episode: 12
  • Genre: Action, Adventure, Seinen

Jormungand adalah rencana Koko Hekmatyar untuk perdamaian dunia.

Koko adalah pedagang senjata dan kepala Divisi Transportasi Senjata Eropa / Afrika, cabang bisnis pengiriman ayahnya. Koko, bersama dengan sembilan pengawalnya, mempromosikan perdamaian dunia dengan memastikan setiap sisi perang dilengkapi dengan peralatan lengkap.

Jormungand terus menawarkan perpaduan sempurna antara petarung tangguh, dalam bentuk tentara bayaran Koko, dengan kecerdikan taktis Koko.

4. Hataraku Maou Sama (The Devil is a Part-Timer)

hataraku maou sama
  • Episode: 12
  • Genre: Comedy, Supranatural, Fantasy

Satan dan jenderal setianya Alciel, terpaksa melarikan diri dari dunia mereka melalui portal saat mereka dikalahkan oleh pahlawan Emilia Justina. Mereka akhirnya terlempar di Jepang dan mereka masing-masing mengambil nama Sadao Maou dan Shirou Ashiya.

Sadao mulai bekerja paruh waktu di sebuah restoran cepat saji sementara Ashiya mencoba mencari cara agar mereka mendapatkan kembali kekuatan mereka. Emilia juga sama, dan dia berniat menyelesaikan misinya, tetapi tanpa sihir, dia juga terpaksa harus mengambil kerja di dunia modern ini.

The Devil Is a Part-Timer! adalah serial komedi menyenangkan lainnya di katalog White Fox. Meski ini adalah komedi, White Fox menghadirkan banyak pertempuran yang harus dilawan Sadao untuk melindungi orang-orang yang dia sayangi. Pertarungan itu adalah suguhan, tetapi cara Sadao, Ashiya, Emi, dan karakter lain bermain dan berinteraksi satu sama lain yang membuat The Devil Is a Part-Timer! seri yang bagus.

5. Akame Ga Kill!

akame ga kill
  • Episode: 24
  • Genre: Action, Drama, Fantasy

Tatsumi memiliki ambisi untuk mendapat sukses di Ibukota agar bisa memenuhi kebutuhan desanya yang kelaparan. Dia dan dua temannya dari desa berangkat ke Ibukota untuk melakukan hal itu. Setelah terpisah di perjalanan, Tatsumi menemukan bahwa Ibukota tak seindah yang orang bayangkan. Ia dengan cepat melihat betapa korupnya sistem yang bekerja.

Dia tidak hanya mengetahui bahwa teman-temannya tidak seberuntung dirinya. Sebuah kelompok pembunuh mencari penebusan bagi para koruptor itu dan merekrut Tatsumi. Ini memulai petualangan memerangi korupsi dan membalas mereka yang menderita.

Meski sempat kontroversial dengan sebagian penggemar manga, karena animenya tamat lebih dulu ketimbang manga sehingga tercipta dua versi ending, adaptasi Akame ga Kill! dipuji karena nilai produksinya yang tinggi, yang telah menjadi semacam merek dagang animasi White Fox.

Lihat juga: Perbedaan Ending Akame ga Kill Antara Manga dan Anime

6. Matoi the Sacred Slayer

Soushin Shoujo Matoi
  • Episode: 12
  • Genre: Magical Girl, Supranatural

Matoi the Sacred Slayer adalah karya asli pertama dan sejauh ini satu-satunya dari White Fox. Meski gadis-gadis dari Matoi the Sacred Slayer disebut gadis pengusir setan, itu sebenarnya hanyalah istilah lain untuk magical girl.

Serial ini menyatukan semua yang diharapkan dari serial magical girl dan menggabungkannya dengan animasi hebat White Fox yang telah dikenal selama bertahun-tahun. Matoi the Sacred Slayer hanyalah contoh lain bagaimana White Fox telah membuktikan bahwa mereka dapat menangani material mulai dari terang hingga gelap dan menyesuaikannya dengan semestinya.

7. Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu
  • Episode: 25 (Season 1/2016), On going
  • Genre: Fantasy, Isekai, Psychological, Thriller

Subaru Natsuki terlempar ke dunia fantasi. Dia dengan cepat menemukan bahwa hal-hal tak seperti dalam game yang dia mainkan dan manga yang dia baca. Dia bukan yang terpilih, dan dia tak punya bakat atau mendapat semacam kekuatan super tertentu.

Re: ZERO menggoda sebagai fantasi isekai standar, seperti yang diharapkan Subaru, tetapi jauh dari itu. Ini adalah thriller setengah romansa, setengah psikologis, dan akan membuat kita bersimpati dan menjauh darinya.

Subaru dan orang-orang di sekitarnya akan mati berulang kali dalam usahanya yang semakin putus asa untuk mencari cara untuk bergerak maju. Re: ZERO tak hanya menjadi gelap seperti kebanyakan seri White Fox, tapi juga makin gelap dan bertambah gelap. Jika belum menonton Re: ZERO, bersiaplah untuk dibuat terkesiap dengan setiap episodenya.

8. Shoujo Shuumatsu Ryokou (Girl’s Last Tour)

Shoujo Shuumatsu Ryokou
  • Episode: 12
  • Genre: Adventure, Sci-Fi, Slice of Life

Chito dan Yuuri menjelajahi pasca-apokaliptik untuk mencari minyak bagi Kettenkrad mereka dan makanan untuk perut mereka. Mereka tak memiliki tujuan apa pun selain menuju ke puncak kota untuk mencari entah apa. Sejujurnya, hidup mereka tak ada harapan, tetapi dengan satu sama lain di sisi mereka, mereka mampu menemukan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Desain karakter imut Girls’ Last Tour sangat kontras dengan lingkungan yang suram, tetapi perpaduan elemen yang saling bertentangan ini adalah bagian inti dari kemampuan terbaik White Fox. Girls’ Last Tour terasa seperti irisan kehidupan, tetapi kita sangat menyadari bahwa Chito dan Yuuri berjuang hanya untuk bertahan hidup.

Slice of life memang genre cenderung hangat, tetapi mengingat dua gadis ini berjuang untuk bertahan hidup di lingkungan tadi membuat anime ini semacam ironi, apalagi ketika Chito dan Yuuri sedang mengatasi keadaan tragis mereka.

9. Grimoire of Zero (Zero Kara Hajimeru Mahou no Sho)

grimoire of zero
  • Episode: 12
  • Genre: Action, Adventure, Magic, Fantasy

Beastfallen adalah makhluk setengah manusia dan setengah binatang, mereka didiskriminasi karena penampilan mereka. Salah satu Beastfallen berusaha menjadi manusia dan bermimpi membuka kedai minuman.

Sebuah pertemuan kebetulan dengan penyihir bernama Zero membuatnya melihat semacam harapan. Sebagai imbalan untuk perlindungan, Zero berjanji untuk mengubahnya jadi manusia jika dia bisa mengawalnya mencari buku besar ajaib bernama Grimoire of Zero; buku yang mampu menciptakan malapetaka jika berada di tangan yang salah.

Berdasarkan light novel dengan judul sama, Grimoire of Zero adalah seri ke-14 White Fox dan menandai sepuluh tahun berdirinya studio ini. Grimoire of Zero adalah semua yang diharapkan dari seri White Fox. Awalnya terasa seperti serial fantasi yang ringan, tetapi saat kita masuk lebih dalam ke plotnya, Grimoire of Zero menjadi semakin gelap dan berurusan dengan topik yang lebih rumit. Tentu saja, kita juga bisa melihat hubungan menggemaskan yang berkembang antara protagonis selama perjalanan mereka.

10. Goblin Slayer 

goblin slayer
  • Episode: 12
  • Genre: Action, Adventure, Fantasy

Goblin Slayer dirilis akhir 2018. Anime yang episode awalnya sangat keji dan biadab, yang menyebabkan kemarahan di Twitter. Bahkan Crunchyroll tak memasukannya dalam penghargaan animenya untuk tahun 2019 karena reputasinya tadi.

Meski begitu, konten kekerasan sensitif di anime ini sebenarnya hanya terjadi di episode pertama. Setiap episode setelah itu cukup jinak. Jika menikmati serial petualangan, Goblin Slayer adalah pilihan tontonan dengan lebih banyak darah dan terutama lebih gelap ketimbang kebanyakan anime petualangan.

white fox studio

Tinggalkan Balasan