Kategori
Catutan Pinggir Sepak Bola

Son Heung-min Sang Idol Sepak Bola

Son Heung-min menceritakannya, saat dia berusia 10 tahun dan bertengkar dengan kakak laki-lakinya, Heung-yun. Kemudian terjadi sesuatu yang bakal terus membekas dengannya.

Ayah dari sang pemain garda depan Tottenham itu, Son Woong-jung, adalah mantan pemain sepak bola profesional di Korea Selatan, dan ia mulai melatih putra-putranya, menjadikan itu sebagai misinya untuk membimbing mereka ke puncak, menghindari jebakan yang pernah ia hadapi. Pada saat itu,  ia melihat warna merah dan, meminjam kata yang digunakan Son, memutuskan untuk memaksakan diri pada sebuah pengorbanan.

Kategori
Fiksi

Cerpen Terjemahan: “Nestapa” Karya Han Yujoo

Dia berusia lima puluh empat tahun dengan pikiran masih sehat dan tubuh yang membusuk. Dia meninggal. Dia tidak cukup muda untuk punya sebab kematian tertentu, atau cukup muda untuk mati karena kesedihan luar biasa mendalam. Hanya ada kesedihan yang samar seputar kematian itu sendiri. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan dia tidak punya siapa pun yang akan sedih atas kematiannya. Tidak ada orang yang akan mengingatnya. Karena dia sudah meninggal, dia bahkan tidak bisa mengklaimnya. Kematian berarti kehilangan semua hal, orang-orang, diri sendiri, dan kepemilikan apapun atas ruang dan waktu. Saya menemukan bahwa itu sesuatu yang benar-benar tragis. Dia meninggal pada usia lima puluh empat tahun, dan saya tidak merasa sedih. Saya pikir ini benar-benar menyedihkan.

Kategori
Fiksi

Pembunuhan Diri, Kim Young-ha

young-ha-kim-napkin-lg

Dia berumur dua puluh satu tahun, dengan kulit kuning langsat yang mulus. Bahkan tanpa rias muka, wajahnya bersinar, selalu bersih dan berseri. Inilah mengapa klinik dokter kulit mempekerjakannya sebagai resepsionis. Pekerjaannya sederhana. Yang harus dia lakukan hanya menulis nama pasien, mengarahkan mereka dengan suara ramah, “silahkan duduk sampai kami memanggil nama Anda,” mencari bagan mereka, dan menyerahkan ke perawat. Kulitnya yang bercahaya dan kinclong menciptakan harapan tinggi, mendorong pasien agar percaya pada klinik ini, yang ditandai dengan peningkatan jumlah pasien yang tiba-tiba.

Tapi suatu hari, wajahnya kehilangan kerupawanannya. Masalahnya dimulai dengan munculnya jerawat kecil, semakin memburuk dan memburuk sampai menyebar ke seluruh wajahnya. Tidak ada yang tahu. Awalnya, si dokter muda itu, yang baru bisa memulai bisnis dengan bantuan pinjaman bank, memperlakukannya dengan biasa saja, tapi kemudian memusatkan perhatian padanya dengan penuh keputusasaan. Dan semakin si dokter memusatkan perhatian padanya, semakin kondisi si resepsionis memburuk. Bintik-bintik merah menutupi wajahnya, membuatnya seperti pizza yang lumer kalau dilihat dari jauh. Dokter yang putus asa itu menjambak rambut si resepsionis dan perawat membencinya. Suatu hari di musim semi, dia meninggalkan sebuah catatan – “Saya minta maaf kepada semua orang, saya minta maaf” – lalu bunuh diri. Klinik tadi menyewa seorang resepsionis baru. Kulitnya yang sangat bercahaya sampai-sampai bikin mata semua orang langsung tertutup.

*

Diterjemahkan dari Honor Killing. Fiksimini dari Kim Young-ha yang dimuat di Esquire ini bercerita seperti judulnya, yang kalau diterjemahkan tepatnya berarti pembunuhan demi menjaga kehormatan. Juga mengkritisi budaya kontemporer Korea Selatan yang mengkultuskan visual seseorang.

Kategori
Inspirasi

Jadilah Seniman, Sekarang Juga!

Kenapa kita berhenti bermain dan berkreasi? Dengan luwes dan humoris, Young-ha Kim, penulis asal Korea Selatan ini memberi ceramah asyik soal membangkitkan kembali sang seniman yang bersembunyi dalam diri kita di TEDxSeoul.

Ah saat sedang dilanda galau ‘quarter-life crisis’, akhirnya saya dipertemukan dengan tautan super keren dan inspiratif ‘Talks to watch when you don’t know what to do with your life’. Ya, video di atas adalah salah satunya, dengan pembicara seorang penulis kontemporer Korea Selatan sekaligus profesor di Korea National University of Arts. Entah kenapa saya pilih video ini sebagai yang pertama, mungkin karena serasa lagi bercermin kalau ngeliat Young-ha Kim ini. Yang pasti ini salah satu ceramah TEDx yang keren banget.

Every child is an artist. The problem is how to remain an artist once we grow up. – Pablo Picasso

“Ah gue sibuk, nggak punya waktu buat seni atau apalah namanya.”

“Hey seni nggak bikin perut kenyang. Aku harus pergi sekolah, nyari kerjaan, bla bla bla…”

Dan banyak alasan lain, khususnya karena kita menganggap seni hanya bagi mereka yang berbakat. Padahal kita semua adalah seniman, saat masih kecil kita sangat berbakat, jadi pelukis, jadi penulis, jadi penari, jadi penyanyi, jadi apapun yang kita mau. Tapi kemana si seniman tadi? Ya, kita sendiri yang menguncinya, membuangnya, bahkan membunuh ‘sang seniman kecil’ itu.

Semakin dewasa, kita semakin banyak beralasan.

young ha kim writer tips quote

Tentunya, sebagai pengarang I Have the Right to Destroy Myself dan Your Republic is Calling You, juga karya novel lainnya, Kim Young-ha membeberkan beberapa pencerahan soal menulis, khususnya dalam hal ‘story-telling’. Dia mengutip Roland Barthes yang menyoal novel Flaubert, “Flaubert tidak menulis novel. Dia hanya menghubungkan satu kalimat demi satu kalimat. Ada eros di antar kalimatnya, yang merupakan esensi novel Flaubert.” Ya, novel, pada dasarnya, adalah menulis satu kalimat, kemudian, tanpa melanggar ruang lingkup yang pertama, menulis kalimat berikutnya. Dan kamu terus membuat koneksi.

Ambil contoh kalimat ini: Gregor Samsa terbangun dari satu mimpi buruk dan menemukan dirinya menjadi seekor kecoa besar. Ya, ini adalah kalimat pertama dalam Metamorfosis-nya Franz Kafka. Dia menulis kalimat yang enggak benar dan terus melanjutkan kalimatnya untuk membenarkan kalimat pertama itu, dan karya Kafka ini menjadi karya agung di sastra kontemporer.

Yang paling saya suka adalah konsep pengajaran soal menulis cerita dari Young-ha Kim. Dalam kelasnya, ia menyuruh muridnya untuk menuliskan cerita tentang momen paling sial di sekolah, namun harus dengan buru-buru. Menulis dengan tergesa-gesa. Alasannya, ketika kita menulis dengan lambat dan penuh perhitungan, akan muncul yang namanya setan. Yaitu setan yang akan membisikin, “Tulisan apa ini? Jelek amat. Bakal diketawain loh nanti.” Nah, dengan menulis secara ngebut, mudah-mudahan setan tadi nggak bakal ngejar. Dan terbukti, Young-ha Kim menilai kalau tulisan bagus dari para muridnya justru tercipta dari kelas menulis ngebut selama 40-60 menit ini, bukan dari tugas menulis yang di-PR-kan. Harus dicoba nih!